Jika engkau mengerti bahwa rasa sakit ini diperlukan untuk mendewasakanmu, maka engkau tak perlu menangis mengasihani diri. Cukuplah bersabar, dan belajar untuk bangkit
Sebut namanya Rio, seorang anak
yang sedang duduk di kelas 3 sebuah Sekolah Dasar. Ia dikenal anak manis, tak
pernah bikin ulah. Berbeda dengan Satria teman sekelasnya yang dibesarkan di
tengah keluarga pengemudi truk. Kata-katanya sering terdengar kasar, dan tak
segan memukul jika merasa terancam.
Siang itu, mereka tengah belajar
bersama gurunya di sebuah ruang kelas. Mereka duduk di lantai melingkar. Jumlah
mereka tak lebih dari 15 anak. Sang Guru bertutur memberikan beberapa
penjelasan tentang pelajaran hari ini. Tiba-tiba terdengar suara benda pecah . Semua
menoleh kearah sumber suara. Suara itu terdengar dari tempat duduk Rio. Satria
yang duduk paling dekat Rio, tahu betul suara tersebut adalah suara tempat
makan. Begitu diperiksa, benar adanya.
Sebuah tempat makan milik salah seorang teman di samping Rio pecah karena
secara tak sengaja terduduki Rio. Satria
yang reakif spontan berteriak keras bahwa Rio memecahkan barang milik orang
lain.
Kejadian berikutnya sungguh
diluar dugaan seisi kelas. Rio tiba-tiba berteriak-teriak membantah ucapan Satria
sambil tangan dan kakinya memukul Satria sekenanya. Seisi kelas, termasuk guru
terkejut dengan tindakan Rio, anak manis yang selama ini mereka kenal
begitunlembut. Namun, ada hal yang lebih mereka khawatirkan lagi. Apa reaksi Satria?
Dengan badannya yang besar dia bisa saja membuat Rio terkapar sekali pukul. Tentu
ini hal yang sangat tidak diinginkan siapapun.
Hari ini sungguh penuh kejutan. Satria
yang dipukul, dicekik leher bajunya Rio, tidak menunjukkan reaksi apapun. Ia
seperti memahami kepanikan Rio saat ia
teriaki memecahkan tempat makan temannya. Guru melerai dan menjauhkan keduanya
sekuat tenaga. Mereka diamankan ke ruang lain yang berbeda. Beberapa guru lain
membantu menenangkan keduanya.
Beberapa saat kemudian keadaan
kembali tenang. Beberapa masih saling berbisik karena penasaran dengan sikap Rio.
Wali kelas pun kemudian mengkofirmasikan kejadian tersebut pada wali murid
keduanya. Satu hal yang mengejutkan adalah jawaban dari walimurid Rio. Beliau
menjelaskan bahwa memang Rio adalah anak satu-satunya. Yang senantiasa
dipuji-puji dan dimanja. Tak pernah sekalipun disalahkan atas kesalahan yang
dilakukannya.
Sahabat sekalian, hidup tak
pernah lepas dari kesalahan. Baik kesalahan yang mudah dimaafkan maupun
kesalahan yang berdampak penderitaan pada diri kita. Mengakui kesalahan
ternyata bukan hal yang mudah. Terlebih jika kesalahan menyangkut kehormatan kita. Bahkan
yang lebih berat lagi adalah saat kita dipersalahkan untuk hal-hal yang bukan
kesalahan kita.
Belajar dari Rio. Seharusnya ia
tidak perlu sepanik itu. Toh itu bukan salahnya semata. Kesalahan itu terjadi secara
tidak sengaja. Namun, dalam pikirannya
yang muncul perasaan panik, merasa terancam, sehingga ia malakukan tindakan tak
terkontrol. Kemampuan untuk menyikapi
kesalahan dengan baik tidak datang serta merta. Butuh pengajaran sejak dini dan
keteladan tentunya. Banyak jalan untuk membahagiakan anak tapi tidak dengan membuatnya
tersanjung selamanya dan merasa menjadi raja yang tak tersentuh kesalahan. Biarkan mereka belajar merasakan sakit, karena
kita tahu rasa sakit itulah yang akan membuat mereka dewasa. Agar kelak saat mereka tumbuh dewasa lebih
siap menghadapi cobaan hidup, menyikapi kesalahan, dan bangkit dari setiap
keterpurukan.
Sebagai orang dewasa yang bertanggungjawab penuh atas pilihan tindakan, kesalahan akan menjadi pelajaran yang bermakna positif hanya jika kita mampu mengakui kesalahan itu setidaknya kepada diri sendiri. Berani mengatakan saya yang bertanggungjawab. Lalu berkomitmen dalam diri untuk melakukan hal yang lebih baik di lain waktu
NB: Berdasarkan kisah nyata yang
dituturkan seorang guru SD

Tambahkan Komentar