Halo !!! Saya Kang Ismet, ini adalah blog tentang AMP HTML dan cara penerapannya

Mengakui kesalahan itu mendewasakan


Jika engkau mengerti bahwa rasa sakit ini diperlukan untuk mendewasakanmu, maka engkau tak perlu menangis mengasihani diri. Cukuplah bersabar, dan belajar untuk bangkit


Sebut namanya Rio, seorang anak yang sedang duduk di kelas 3 sebuah Sekolah Dasar. Ia dikenal anak manis, tak pernah bikin ulah. Berbeda dengan Satria teman sekelasnya yang dibesarkan di tengah keluarga pengemudi truk. Kata-katanya sering terdengar kasar, dan tak segan memukul jika merasa terancam. 

Siang itu, mereka tengah belajar bersama gurunya di sebuah ruang kelas. Mereka duduk di lantai melingkar. Jumlah mereka tak lebih dari 15 anak. Sang Guru bertutur memberikan beberapa penjelasan tentang pelajaran hari ini. Tiba-tiba terdengar suara benda pecah . Semua menoleh kearah sumber suara. Suara itu terdengar dari tempat duduk Rio. Satria yang duduk paling dekat Rio, tahu betul suara tersebut adalah suara tempat makan.  Begitu diperiksa, benar adanya. Sebuah tempat makan milik salah seorang teman di samping Rio pecah karena secara tak sengaja terduduki Rio.  Satria yang reakif spontan berteriak keras bahwa Rio memecahkan barang milik orang lain. 

Kejadian berikutnya sungguh diluar dugaan seisi kelas. Rio tiba-tiba berteriak-teriak membantah ucapan Satria sambil tangan dan kakinya memukul Satria sekenanya. Seisi kelas, termasuk guru terkejut dengan tindakan Rio, anak manis yang selama ini mereka kenal begitunlembut. Namun, ada hal yang lebih mereka khawatirkan lagi. Apa reaksi Satria? Dengan badannya yang besar dia bisa saja membuat Rio terkapar sekali pukul. Tentu ini hal yang sangat tidak diinginkan siapapun.
Hari ini sungguh penuh kejutan. Satria yang dipukul, dicekik leher bajunya Rio, tidak menunjukkan reaksi apapun. Ia seperti memahami  kepanikan Rio saat ia teriaki memecahkan tempat makan temannya. Guru melerai dan menjauhkan keduanya sekuat tenaga. Mereka diamankan ke ruang lain yang berbeda. Beberapa guru lain membantu menenangkan keduanya.

Beberapa saat kemudian keadaan kembali tenang. Beberapa masih saling berbisik karena penasaran dengan sikap Rio. Wali kelas pun kemudian mengkofirmasikan kejadian tersebut pada wali murid keduanya. Satu hal yang mengejutkan adalah jawaban dari walimurid Rio. Beliau menjelaskan bahwa memang Rio adalah anak satu-satunya. Yang senantiasa dipuji-puji dan dimanja. Tak pernah sekalipun disalahkan atas kesalahan yang dilakukannya.  

Sahabat sekalian, hidup tak pernah lepas dari kesalahan. Baik kesalahan yang mudah dimaafkan maupun kesalahan yang berdampak penderitaan pada diri kita. Mengakui kesalahan ternyata bukan hal yang mudah. Terlebih  jika kesalahan menyangkut kehormatan kita. Bahkan yang lebih berat lagi adalah saat kita dipersalahkan untuk hal-hal yang bukan kesalahan kita.  

Belajar dari Rio. Seharusnya ia tidak perlu sepanik itu. Toh itu bukan salahnya semata. Kesalahan itu terjadi secara tidak sengaja.  Namun, dalam pikirannya yang muncul perasaan panik, merasa terancam, sehingga ia malakukan tindakan tak terkontrol.  Kemampuan untuk menyikapi kesalahan dengan baik tidak datang serta merta. Butuh pengajaran sejak dini dan keteladan tentunya. Banyak jalan untuk membahagiakan anak tapi tidak dengan membuatnya tersanjung selamanya dan merasa menjadi raja yang tak tersentuh kesalahan.  Biarkan mereka belajar merasakan sakit, karena kita tahu rasa sakit itulah yang akan membuat mereka dewasa.  Agar kelak saat mereka tumbuh dewasa lebih siap menghadapi cobaan hidup, menyikapi kesalahan, dan bangkit dari setiap keterpurukan. 

Sebagai orang dewasa yang bertanggungjawab penuh atas pilihan tindakan, kesalahan akan menjadi pelajaran yang bermakna positif hanya jika kita mampu mengakui kesalahan itu setidaknya kepada diri sendiri. Berani mengatakan saya yang bertanggungjawab. Lalu berkomitmen dalam diri untuk melakukan hal yang lebih baik di lain waktu

NB: Berdasarkan kisah nyata yang dituturkan seorang  guru SD