Halo !!! Saya Kang Ismet, ini adalah blog tentang AMP HTML dan cara penerapannya

Bila Cinta Mestinya Tak Bersyarat

Cinta adalah kata ajaib yang bisa membuat orang lupa banyak hal. Banyak di antara temen-temen kita, atas nama cinta, mengorbankan hubungan baik mereka dengan orang paling berjasa dalam hidup mereka, orang tua. Cinta mampu membuat segalanya menjadi indah dan benar pada sesuatu yang melekat pada objek yang kita cintai. Semua yang bertentangan dengan hasrat cinta kita menjadi seperti sebuah tirani yang harus dilawan. Nasehat orang-orang baik di sekitar kita terlihat seperti bentuk keirian akan cinta yang sedang kita jalani.
Sampai titik ini, cinta menjadi kekuatan sihir yang membuat orang lemah menjadi 'berani'. Pertanyaannya, sampai kapan kekuatan tersebut bertahan menciptakan energi besar itu? Nyatanya dalam banyak kisah cinta yang melegenda, tersirat banyak penderitaan yang para pecinta rasakan. Tak terbayang olehku, cinta yang begitu dalam seperti Laila hingga menjadi gila dalam Legeda Khais dan Laila, atau kesedihan Maria dalam Ayat-Ayat Cinta membawanya pada penderitaan fisik. Dan yang lebih bikin pusing lagi kisah Ana dan Bram dalam CHSI yang 'ruwet'. Cinta bukan lagi anugerah kalau hanya menyakiti, dan memalingkan kita pada tujuan hidup yang sesungguhnya.
Sahabat sekalian yang baik hati,
Pemikiran saya sangat sederhana tentang cinta. Cinta mestinya membaikan. Jika cinta yang kita jalani tak kunjung mendatagkan kebaikan, pasti ada yang salah dengan cinta ini. Coba periksa kembali cara  kita mencintai. Cinta yang baik tak kan melanggar ketentuan-ketentuan Tuhan. Sebab sehebat apapun kita untuk mengupayakan kebaikan bagi orang yang kita cintai, masih berkuasa Tuhan untuk menetukan segalanya. Setuju? Sepakat!
Hal kedua, yang harus diperiksa adalah objek cinta kita. Mana yang sering kita lakukan? mencintai orang yang mengabaikan kita atau mengabaikan orang yang mencintai kita? Kedua-duanya sangat melelahkan. Yang lebih produktif tentunya mencintai orang yang mencintai kita. Energinya sama-sama positif, hasilnya mesti positif secara matematis. Betapa banyak watu yang kita buang untuk memburu cinta yang belum jelas untuk kita. Kan perjuangan mas? yup, bolehlah dibilang perjuangan memburu cinta idaman. Syarat pertama,bertujuan untuk menikah bukan bersenang-senang, yang kedua jangan berlarut-larut. Jodoh itu banyak yang siap membangun hidup kita lebih produktif. Perlu diingat, yang perlu kita bahagiakan bukan cuma pasangan hidup, yang kita sebut istri atau suami. Ada ayah dan ibu, yang telah mengorbankan segalanya untuk kebaikan kita. Cinta mereka teramat tulus untuk kita abaikan. Sehebat apapun cinta pasangan kita tidak ada artinya dibandingkan ketulusan cinta orang tua kita. Setiap cinta yang bertentangan energi cinta yang lebih besar tidak akan bertahan lama, dan sering kali berakhir menyedihkan. Sebaliknya memutuskan untuk mencintai yang sejalan dengan energi cinta yang lebih besar (baca: Allah SWT dan orang tua) akan mendatangkan lebih banyak keberkahan. 
Hal ketiga, pastikan bahwa yang kita berikan adalah cinta. Cinta bukan jual beli, yang menghendaki lebih banyak menerima daripada memberi. Bukan juga negosiasi yang menang-menang. Cinta yang lannggeng berawal dari kesiapan dan kesediaan untuk lebih banyak memberi. Menumbuhkan kebaikan dan lebih banyak keberkahan. Bukan hanya menyatukan 2 hati. Tapi menyatukan banyak hati, banyak keluarga, dan banyak peradaban.
Tanpa syarat. Jika bersyarat, syaratnya adalah keridloan Allah SWT.


Kaliurang, 13 Sepetember 2014 pukul 21:58
Terima kasih Allah atas angurah yang Engkau berikan kepada kami. Semoga cinta ini mampu membawa kami pada surga-Mu